Langsung ke konten utama

indahnya tali ukhuwah

                                                  "INDAHNYA TALI UKHUWAH"

                                            
Ukhuwah merupakan anugerah Allah SWT yang tiada terhingga dan kenikmatan yang tidak dapat diukur oleh materi. Sekalipun seluruh manusia berusaha untuk mengumpulkan harta mereka, namun itu semua tidak dapat digunakan untuk membeli ‘ukhuwah’. Karena ukhuwah tumbuh dan lahir dari cahaya keimanan. Allah SWT berfirman:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan (Allah-lah) Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 63).
Ukhuwah atau persaudaraan dalam islam sangatlah populer disebutkan  banyak orang, tapi pengamalannya tidak semudah mengucapkannya, tapi kita sebagai muslim harus optimis bahwa ukhuwah islamiyah ini suatu keniscayaan atau sesuatu yang memang bisa terjadi bahkan harus terjadi. Sebab dengan ukhuwah ini ajaran islam bisa menyebar ke seantero dunia, hal ini terbukti pada jaman Rasulullah Saw yang mana telah terjadinya persaudaraan (ukhuwah) yang begitu indah antara kaum muhajirin dengan kaum anshar, kita ketahui kaum muhajirin adalah kaum muslimin yang ikut serta berhijrah bersama Rasulullah dari Mekkah ke Madinah, sedangkan kaum anshar adalah kaum muslimin yang sudah menetap di Madinah dan mereka menyambut dengan hangat kedatangan kaum muhajirin.
Persaudaran dalam Islam tidak dibatasi dengan wilayah geografis; batas daerah, batas provinsi, batas negara, bahkan menjangkau untuk seluruh belahan dunia dimana orang muslim dan mukmin berada, juga tidak dikhususkan dengan bentuk fisik, warna kulit dan aneka ragam suku bangsa di dunia ini,  selama mereka muslim dan mukmin, maka mereka adalah saudara kita. Ukhuwah islamiyyah dilambangkan bagaikan bangunan yang kokoh sebagaimana hadits Rasulallah Saw ;“Sesungguhnya orang-orang mukmin dengan orang-orang mukmin lainnya itu bagaikan bangunan yang satu, bagiannya menguatkan bagian yang lain (H.R. Bukhari dan Muslim)
Begitu pula seharusnya yang terjadi diantara kita, sekalipun berbeda suku bangsa, berbeda golongan, berbeda partai dan berbeda kepentingan, tapi kalau sudah diikat dengan islam dan iman, maka perbedaan tadi menjadi lebur, dan tentunya kepentingan umum (umat) dan kepentingan agama lebih didahulukan. Allah Swt, dalan kitab-Nya berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. ” (Q.S. Al-Imran : 103)

Dalam islam perbedaan itu merupakan rahmat, sehingga terjadinya perbedahan dalam paham keagamaan tidak dijadikan sebagai alasan untuk berpecah belah, bahkan harus dijadikan sebagai hikmah dan menambah khazanah keilmuan dalam islam, artinya betapa kaya dan luasnya ilmu islam, sehinga banyak sumber dan pendapat, bukankah pijakan keilmuan dalam islam terutama bidang fiqih terdapat pada empat imam ;Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Hanafi, dan Imam Maliki, tapi para imam tersebut sama sekali tidak  terdengar melakukan pertengkaran satu sama lain, bahkan diantara beliau bersikap tasamuh (toleransi) dan saling menguatkan. Dengan demikian mudah-mudahan Allah menganugerahkan nikmat berupa kelezatan beriman kepada-Nya, mendapat perlindungan Allah di dunia dan di akhirat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa

Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa      Dalam metodelogi sejarah, Tajj Ad-Diin As-Subki memberikan salah satu sifat yang menjadi syarat kepada seseorang yang layak dianggap sejarawan. Sifat itu adalah Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa artinya tidak dikuasai oleh hawa nafsu.      Alamak, kayaknya selain ujian kampus, hari-hari ini kita juga sedang di uji dengan hawa nafsu kita masing-masing. Speak-up terkait kondisi Mesir akhir-akhir ini sepertinya sangat menarik. Tapi untuk apa saya menulis? Untuk apa saya mengomentari postingan saudara saya dan membantahnya? bahkan sepertinya saya menjatuhkan mertabatnya…       Jadi ingat ucap Ustadz Baba Feylian beberapa waktu lalu ketika ditanya apa yang dibutuhkan oleh para lulusan Al-Azhar? Beliau menjawab : ”Tazkiyatun Nafs”.      Bukan, saya tidak sedang membatasi pergolakan pemikiran yang terjadi, teruskan! Itu bagus sekaliii, ASELII… namun saya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa jangan sampai ...

Akan Kita Apakan Ramadhan 2019?

Manusia hakikatnya memiliki 2 unsur dalam dirinya. Yaitu Jasad dan Ruh. Jasad manusia diciptakan dari tanah.  (وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ) "Dan sungguh telah kami ciptakan manusia dari tanah liat yang kering dari lumpur hitam yang dibentuk" [Surat Al-Hijr 26] Dan itulah, manusia tak bisa lepas dengan tanah. Segala hal semua berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Maka apa yang di sombongkan? toh kita dari satu unsur yang sama, Tanah. Namun, Seindah-indahnya jasad yang dikaruniakan Allah Swt. tak akan berarti tanpa adanya ruh. Jasad dianggap hidup karena dia memiliki ruh. Sebagus-bagusnya jasad seseorang. Ketika ruh telah tiada dalam jasadnya. Maka ia akan di jauhi, ia akan cepat-cepat di asingkan dari kehidupan, Dikubur. Semewah-mewahnya kasur tempat ia tidur. Ketika ruh telah tak ada dalam jasadnya. Maka tanahlah alas tidurnya. Maka kita mengetahui betapa ruh begitu memiliki arti penting dalam diri i...

Aku.

Akhir-akhir ini merasa sedih dan bingung, berfikir tentang hakikat yang membuat diri ini merasa bukan apa-apa. Dua hal yang menjadi dasar dalam hidup yang ternyata akupun belum memahami hakikat kata itu. Terngiang ucapan salah satu ustadz bahwa “jika seorang ibn athoillah as sakandari adalah orang yang mengenal tuhannya. Maka siapa kita?” Ternyata aku bukan siapa-siapa. Ya Allah, maafkan hambamu yang belum mengenalmu, padahal engkau tak penah berhenti memberikan rahmatmu kepadaku. Padahal engkau penciptaku, rajaku dan tuhanku. Maka ampuni aku ya Allah. Ya Baginda Rasulullah, Maafkan aku umatmu yang juga belum mengenalmu. Padahal engkau adalah Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia. Sholawat serta salam atasmu wahai kahirul khulqi. Ya Allah, izinkan aku mengenal-Mu dan Rasul-Mu, maka mudahkanlah urusanku untuk itu.