Langsung ke konten utama

Belajar dari kehidupan daun


Hasil gambar untuk daun
Waktu pagi tadi, saat saya melihat tanaman di halaman rumah sehabis ditimpa hujan kemarin malam terlihat masih ada tetes air yang melekat pada daun yang telah lama tidak terkena air hujan.

Sehelai daun adalah organ penting sebuah tumbuhan. Daun mampu memenuhi kebutuhan energi dirinya, menjadi dapur makanan bagi sebuah pohon tempatnya tertancap, dan mampu memberikan kesejukan bagi udara disekitarnya. Daun mampu melakukan semua itu secara kodrati.
Daun mampu menyesuaikan diri dengan kondisi alam sekitarnya. Saat musim kering, daun rela menggugurkan diri untuk menjaga air tanah tidak menguap sehingga tanaman tetap hidup. Pada daerah padang pasir, daun berbentuk ramping dan memiliki lapisan kutikula yang tebal sehingga air dalam sel-selnya tidak mudah menguap.

Saat asiknya saya memperhatikan tanaman tersebut, terdengar sapaan dari arah belakang saya “ itulah kehidupan, lihatlah warna daun ada yang hijau muda, hijau tua dan kekuning-kuningan dan akhirnya gugur “ ujar mertua saya H. Bustami Dt.Tunaro.

“ benar sekali pak, Daun tidak menunggu dewasa untuk dapat bermanfaat. Sejak daun muncul dari tunas kecilnya, dia sudah mampu berfotosintesis dan memberikan manfaat untuk dirinya, pohonnya dan lingkungan sekitarnya. Energi dari hasil fotosintesis dialirkan ke seluruh bagian tumbuhan. Daun mampu bekerjasama. Sehelai daun bersama helaian-helaian daun lain saling mendukung untuk menjaga keberlanjutan proses alam. Semakin banyak daun tumbuh dan rimbun dalam satu pohon, semakin kuat akar mencengkeram tanah, semakin kokoh pohon berdiri dan semakin besar manfaat yang akan dirasakan oleh lingkungan. Sebagian banyak daun berwarna hijau, warna yang melambangkan keteduhan dan kesegaran. Daun tidak sekedar menjadikan hijaunya sebagai lambang, daun benar-benar mampu memberikan keteduhan dan kesejukan.” Ujar saya.

“ usia bapak sekarang telah 88 tahun, ibaratkan daun yang tidak hijau lagi telah kering dan keriput yang sebentar lagi akan gugur meninggalkan batangnya “ ujar mertua saya.

“ Bapak ibaratakan sebagai daun telah menjalani tugas kehidupan pada setiap tahapannya, sejak kecil telah mampu memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan sebagi pangulu suku, sebagai ayah dan sebagai mamak telah melakukan fungsinya dengan baik.” Ulas saya

“ nah di hari tua ini, inilah yang saya risaukan, apakah benar saya telah melakukan kebaikan buat diri sendiri, orangtua, kaum, keluarga dan bagi anak-anak dan lingkungan ditempat saya“ ucap mertua saya.
“ sebagai orangtua dan mamak, saya pikir sebenarnya sejak dulu bapak telah mampu membuat kebaikan dengan segenap kemampuan tenaga yang bapak punyai, dimana rumah anak dan kemenakan mampu bapak bangun dengan bantuan tenaga sendiri yang sekarang dapat memberikan keteduhan bagi mereka , itulah prinsip daun. Dimana sehelai daun mampu mengubah keburukan menjadi kebaikan. Pada siang hari, zat asam arang CO2 yang ada di udara diserapnya. CO2 digunakan oleh daun untuk proses 'memasak' yang dikenal sebagai proses fotosintesis. Keluarannya akan terdapat dua zat bermanfaat, yaitu energi (zat gula) dan oksigen O2. Banyaknya oksigen yang dikeluarkan daun inilah yang menjadikan udara di sekitar daun pada siang hari menjadi terasa sejuk.” Tutur saya.

Kehidupan itu harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup itu harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup itu harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan, serupa dengan fungsi helai-helai daun yang memiliki dan mempunyai sesuatu, hingga pada akhirnya ia harus gugur dan jatuh ke tanah, lepas dari batang pohon yang kokoh sekalipun. Melayang mengikuti angin sebagai takdirnya. Entah ia jatuh pada tanah gersang, tanah subur, tanah berbatu, atau di atas jalanan, hingga ia langsung terlindas kendaraan-kendaraan yang lewat. Entah ia jatuh di atas permukaan air yang menghanyutkannya dan entah sampai kapan ia harus terhanyut. Semuanya entah, hingga mentari tidak bisa lagi membantunya membentuk klorofil-klorofil bagi daun-daun gugur itu.

Demikianlah filosofi daun. Daun itu hijau, indah, menghidupi dan menyegarkan. Dengan sifat-sifatnya yang berperan besar dalam penyelamatan bumi, maka berbagai upaya penyelamatan bumi disebut sebagai aktivitas hijau. Semakin banyak daun tumbuh, semakin hijau bumi dibuatnya, semakin nyaman bumi untuk ditinggali. Yang perlu diingat, bumi ini bukan warisan, melainkan kita meminjamnya dari anak-cucu dan penerusnya. Karena alasan itu, tentunya kita harus mengembalikan dalam kondisi sebaik mungkin pada saatnya kelak mereka hadir di bumi.

(saifulguci@yahoo.co.id , Pulutan 31 Juli 2014 )

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa

Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa      Dalam metodelogi sejarah, Tajj Ad-Diin As-Subki memberikan salah satu sifat yang menjadi syarat kepada seseorang yang layak dianggap sejarawan. Sifat itu adalah Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa artinya tidak dikuasai oleh hawa nafsu.      Alamak, kayaknya selain ujian kampus, hari-hari ini kita juga sedang di uji dengan hawa nafsu kita masing-masing. Speak-up terkait kondisi Mesir akhir-akhir ini sepertinya sangat menarik. Tapi untuk apa saya menulis? Untuk apa saya mengomentari postingan saudara saya dan membantahnya? bahkan sepertinya saya menjatuhkan mertabatnya…       Jadi ingat ucap Ustadz Baba Feylian beberapa waktu lalu ketika ditanya apa yang dibutuhkan oleh para lulusan Al-Azhar? Beliau menjawab : ”Tazkiyatun Nafs”.      Bukan, saya tidak sedang membatasi pergolakan pemikiran yang terjadi, teruskan! Itu bagus sekaliii, ASELII… namun saya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa jangan sampai ...

Akan Kita Apakan Ramadhan 2019?

Manusia hakikatnya memiliki 2 unsur dalam dirinya. Yaitu Jasad dan Ruh. Jasad manusia diciptakan dari tanah.  (ÙˆَÙ„َÙ‚َدْ Ø®َÙ„َÙ‚ْÙ†َا الْØ¥ِÙ†ْسَانَ Ù…ِÙ†ْ صَÙ„ْصَالٍ Ù…ِÙ†ْ Ø­َÙ…َØ¥ٍ Ù…َسْÙ†ُونٍ) "Dan sungguh telah kami ciptakan manusia dari tanah liat yang kering dari lumpur hitam yang dibentuk" [Surat Al-Hijr 26] Dan itulah, manusia tak bisa lepas dengan tanah. Segala hal semua berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Maka apa yang di sombongkan? toh kita dari satu unsur yang sama, Tanah. Namun, Seindah-indahnya jasad yang dikaruniakan Allah Swt. tak akan berarti tanpa adanya ruh. Jasad dianggap hidup karena dia memiliki ruh. Sebagus-bagusnya jasad seseorang. Ketika ruh telah tiada dalam jasadnya. Maka ia akan di jauhi, ia akan cepat-cepat di asingkan dari kehidupan, Dikubur. Semewah-mewahnya kasur tempat ia tidur. Ketika ruh telah tak ada dalam jasadnya. Maka tanahlah alas tidurnya. Maka kita mengetahui betapa ruh begitu memiliki arti penting dalam diri i...

Aku.

Akhir-akhir ini merasa sedih dan bingung, berfikir tentang hakikat yang membuat diri ini merasa bukan apa-apa. Dua hal yang menjadi dasar dalam hidup yang ternyata akupun belum memahami hakikat kata itu. Terngiang ucapan salah satu ustadz bahwa “jika seorang ibn athoillah as sakandari adalah orang yang mengenal tuhannya. Maka siapa kita?” Ternyata aku bukan siapa-siapa. Ya Allah, maafkan hambamu yang belum mengenalmu, padahal engkau tak penah berhenti memberikan rahmatmu kepadaku. Padahal engkau penciptaku, rajaku dan tuhanku. Maka ampuni aku ya Allah. Ya Baginda Rasulullah, Maafkan aku umatmu yang juga belum mengenalmu. Padahal engkau adalah Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia. Sholawat serta salam atasmu wahai kahirul khulqi. Ya Allah, izinkan aku mengenal-Mu dan Rasul-Mu, maka mudahkanlah urusanku untuk itu.