Langsung ke konten utama

Jangan Persoalkan Penilaian Manusia


                             
Bebarapa waktu lalu, saya mengikuti kompetisi lomba pidato bahasa Indonesia tingakat wilayah Kalimantan. Dan sayangnya, saya tak mendapat apa yang peserta normal inginkan. Ya saya tak mendapat juara dalam kompetisi. 

Sebetulnya, dari awal saya mengikuti lomba ini tak terbesit keinginan untuk mendapatkan juara. Yang saya inginkan hanyalah mendapatkan pengalaman dan mengasah seberapa hebat kemampuan saya dalam berpidato. Syukur-syukur kalo saya mendapatkan juara.

Beberapa hari saya mempersiapkan pidato apa yang saya ingin sampaikan. Tak seperti kawan-kawan yang lain yang begitu serius untuk mempersiapkan pidato ini dengan menghafalkan teks pidato, saya lebih memperdalam materi yang sesuai dengan tema dengan cara banyak-banyak membaca buku dan atrikel sekaligus melihat bagaimana tokoh idola saya berpidato lewat youtube.

Hari itupun tiba. Saya mencoba untuk mengendalikan diri agar tidak gerogi. Para peserta tampil dengan baik. Dan giliran sayapun tiba. Saya berpidato seperti yang saya inginkan. (saking asyiknya, kelewatan dari waktu yang disediakan :D)

Alhamdulillah sekolah kami mendapat juara(bukan saya). Dan dalam perjalanan pulang saya berfikir tentang beberapa hal terkait lomba ini.

Saya berfikir, apa yang menjadi penilaian sang juri sehingga peserta yang lain tak mendapatkan juara? Padahal, beberapa peserta patut menjadi juara. Mengapa mereka bertiga tadi yang jadi juara? Dan dari pertanyaan ini saya mendapatkan kesimpulan sederhana (versi saya). 

Setiap juri memiliki prinsip dalam penilaian masing-masing dan penilaian juri didasarkan dengan hal-hal yang menjadi faktor penilaian itu sendiri(seperti kriteria yang ditentukan pantia). Sehingga tak perlu kita kecewa apalagi sedih dengan hasil seperti itu. Toh, dengan tidak menjadi juara bukan berarti itu adalah pertanda bahwa kita tidak hebat/bagus/baik. Semua hanyalah subjektifitas dari juri. 

Dan perlu diketahui bahwa berbeda antara perlombaan dengan kenyataan dalam kehidupan . emang kalian pernah lihat seorang Ir. soekarno,  sang ahli pidato juara lomba pidato? Tentu tidak. Tapi, ia mampu menyihir jutaan pendengarnya. Oleh karena itu don’t be sad kalo hal semacam ini terjadi kepada kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah usaha dan usaha. Karena usaha tak pernah membohongi hasil. never give up and do the best!

Terakhir, saya hanya mengingatkan bahwa dalam segala hal, yang paling utama sebelum kita memulainya adalah, sempurnakan niat. Kenapa? karena niat akan membawa kita kepada apa yang kita inginkan. Jikalau apa yang kita inginkan tak kita dapatkan.yakinlah, ada hikmah yang terkandung dalam peristiwa tersebut.
Sebaik-baik niat adalah niat karena Allah swt. Karena apapun hasilnya kita akan menerimanya dengan lapang dada. Dan hebatnya adalah, kita tak akan bersedih dengan hasil yang didapatkan. Karena apa yang kita inginkan didasarkan karena Allah dan hasil yang kita dapatkan adalah pilihan terbaik dari Allah. Patut bangga dong!  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa

Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa      Dalam metodelogi sejarah, Tajj Ad-Diin As-Subki memberikan salah satu sifat yang menjadi syarat kepada seseorang yang layak dianggap sejarawan. Sifat itu adalah Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa artinya tidak dikuasai oleh hawa nafsu.      Alamak, kayaknya selain ujian kampus, hari-hari ini kita juga sedang di uji dengan hawa nafsu kita masing-masing. Speak-up terkait kondisi Mesir akhir-akhir ini sepertinya sangat menarik. Tapi untuk apa saya menulis? Untuk apa saya mengomentari postingan saudara saya dan membantahnya? bahkan sepertinya saya menjatuhkan mertabatnya…       Jadi ingat ucap Ustadz Baba Feylian beberapa waktu lalu ketika ditanya apa yang dibutuhkan oleh para lulusan Al-Azhar? Beliau menjawab : ”Tazkiyatun Nafs”.      Bukan, saya tidak sedang membatasi pergolakan pemikiran yang terjadi, teruskan! Itu bagus sekaliii, ASELII… namun saya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa jangan sampai ...

Akan Kita Apakan Ramadhan 2019?

Manusia hakikatnya memiliki 2 unsur dalam dirinya. Yaitu Jasad dan Ruh. Jasad manusia diciptakan dari tanah.  (وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ) "Dan sungguh telah kami ciptakan manusia dari tanah liat yang kering dari lumpur hitam yang dibentuk" [Surat Al-Hijr 26] Dan itulah, manusia tak bisa lepas dengan tanah. Segala hal semua berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Maka apa yang di sombongkan? toh kita dari satu unsur yang sama, Tanah. Namun, Seindah-indahnya jasad yang dikaruniakan Allah Swt. tak akan berarti tanpa adanya ruh. Jasad dianggap hidup karena dia memiliki ruh. Sebagus-bagusnya jasad seseorang. Ketika ruh telah tiada dalam jasadnya. Maka ia akan di jauhi, ia akan cepat-cepat di asingkan dari kehidupan, Dikubur. Semewah-mewahnya kasur tempat ia tidur. Ketika ruh telah tak ada dalam jasadnya. Maka tanahlah alas tidurnya. Maka kita mengetahui betapa ruh begitu memiliki arti penting dalam diri i...

Aku.

Akhir-akhir ini merasa sedih dan bingung, berfikir tentang hakikat yang membuat diri ini merasa bukan apa-apa. Dua hal yang menjadi dasar dalam hidup yang ternyata akupun belum memahami hakikat kata itu. Terngiang ucapan salah satu ustadz bahwa “jika seorang ibn athoillah as sakandari adalah orang yang mengenal tuhannya. Maka siapa kita?” Ternyata aku bukan siapa-siapa. Ya Allah, maafkan hambamu yang belum mengenalmu, padahal engkau tak penah berhenti memberikan rahmatmu kepadaku. Padahal engkau penciptaku, rajaku dan tuhanku. Maka ampuni aku ya Allah. Ya Baginda Rasulullah, Maafkan aku umatmu yang juga belum mengenalmu. Padahal engkau adalah Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia. Sholawat serta salam atasmu wahai kahirul khulqi. Ya Allah, izinkan aku mengenal-Mu dan Rasul-Mu, maka mudahkanlah urusanku untuk itu.