Langsung ke konten utama

Tak usah kagum dengan malaikat

                    

                    


Mungkin sebagian kita merasa kagum dengan makhluk Allah Swt yang agung. yaitu malaikat.

Makhluk yang diciptakan dari cahaya oleh Allah dan ia adalah makhluk yang senatiasa taat dan tunduk pada perintah-perintah Allah tanpa menolaknya sedikitpun. Ia adalah makhluk yang senatiasa dalam ketaqwaan dan jauh dari kata dosa. karena ia tak memiliki hawa nafsu.

sedangkan disisi lain, Setan adalah makhluk yang diciptakan dari Api ia adalah makhluk yang awalnya taat kepada rabb semesta alam. awalnya ia adalah makhluk yang memiliki derajat yang sama dengan para malaikat. Namun, berbeda dengan malaikat yang tak memiliki hawa nafsu. Setan dikaruniai oleh Allah Swt nafsu. Namun keadaan itu membuat ia menjadi makhluk yang hina. Ia ingkar kepada rabbnya. Ia menentang perintah tuhannya. sehingga ia mendapatkan balasan yang telah dijanjikan. Siksaan di api neraka selamanya.

Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt dari tanah dan ia adalah 'ahsani taqwiim', Sebaik-baik penciptaan.

Nah, kawan-kawan sekalian. mengapa kita tak perlu kagum dengan Malaikat?

sesuai dengan apa yang sudah saya jabarkan diatas. tentu anda sudah paham jawabannya.

Malaikat adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt tanpa ada hawa nafsu dalam dirinya. sehingga ia senantiasa dalam ketaqwaan. karena tidak ada yang mendorong ia melakukan hal-hal lain selain apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya.

maka berbeda dengan manusia yang Allah ciptakan ia dengan hawa nafsu. Manusia diciptakan tugasnya adalah ' liya'budu ' untuk beribadah kepada Allah Swt. Dan karena manusia memiliki hawa nafsu dalam dirinya, dan hawa nafsu membuat hal-hal yang menjauhkan diri dari Allah Swt. Maka hal inilah yang menjadi pembeda antara manusia dan malaikat. Manusia memiliki tantangan untuk beribadah kepada Allah Swt. ia harus melawan hawa nafsunya sendiri yang mana hawa nafsunya juga dipengaruhi oleh bisikan-bisikan jahat iblis. sedangkan malaikat adalah makhluk yang tak memiliki tantangan dalam beribadah kepada Allah.

Sehingga jikalau manusia mampu melawan hawa nafsunya dan ia senantiasa taat beribadah kepada rabbnya. maka derajatnya melebihi malaikat. Pun sebaliknya, jikalau manusia terlena akan hawa nafsunya sendiri. Maka ia sama saja dengan para setan yang terlaknat. ' naudzubillahi mindzalik '

Semoga kita senantiasa terjaga dalam ketaqwaan kepada Allah Swt.

Wallahu a'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa

Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa      Dalam metodelogi sejarah, Tajj Ad-Diin As-Subki memberikan salah satu sifat yang menjadi syarat kepada seseorang yang layak dianggap sejarawan. Sifat itu adalah Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa artinya tidak dikuasai oleh hawa nafsu.      Alamak, kayaknya selain ujian kampus, hari-hari ini kita juga sedang di uji dengan hawa nafsu kita masing-masing. Speak-up terkait kondisi Mesir akhir-akhir ini sepertinya sangat menarik. Tapi untuk apa saya menulis? Untuk apa saya mengomentari postingan saudara saya dan membantahnya? bahkan sepertinya saya menjatuhkan mertabatnya…       Jadi ingat ucap Ustadz Baba Feylian beberapa waktu lalu ketika ditanya apa yang dibutuhkan oleh para lulusan Al-Azhar? Beliau menjawab : ”Tazkiyatun Nafs”.      Bukan, saya tidak sedang membatasi pergolakan pemikiran yang terjadi, teruskan! Itu bagus sekaliii, ASELII… namun saya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa jangan sampai ...

Akan Kita Apakan Ramadhan 2019?

Manusia hakikatnya memiliki 2 unsur dalam dirinya. Yaitu Jasad dan Ruh. Jasad manusia diciptakan dari tanah.  (وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ) "Dan sungguh telah kami ciptakan manusia dari tanah liat yang kering dari lumpur hitam yang dibentuk" [Surat Al-Hijr 26] Dan itulah, manusia tak bisa lepas dengan tanah. Segala hal semua berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Maka apa yang di sombongkan? toh kita dari satu unsur yang sama, Tanah. Namun, Seindah-indahnya jasad yang dikaruniakan Allah Swt. tak akan berarti tanpa adanya ruh. Jasad dianggap hidup karena dia memiliki ruh. Sebagus-bagusnya jasad seseorang. Ketika ruh telah tiada dalam jasadnya. Maka ia akan di jauhi, ia akan cepat-cepat di asingkan dari kehidupan, Dikubur. Semewah-mewahnya kasur tempat ia tidur. Ketika ruh telah tak ada dalam jasadnya. Maka tanahlah alas tidurnya. Maka kita mengetahui betapa ruh begitu memiliki arti penting dalam diri i...

Aku.

Akhir-akhir ini merasa sedih dan bingung, berfikir tentang hakikat yang membuat diri ini merasa bukan apa-apa. Dua hal yang menjadi dasar dalam hidup yang ternyata akupun belum memahami hakikat kata itu. Terngiang ucapan salah satu ustadz bahwa “jika seorang ibn athoillah as sakandari adalah orang yang mengenal tuhannya. Maka siapa kita?” Ternyata aku bukan siapa-siapa. Ya Allah, maafkan hambamu yang belum mengenalmu, padahal engkau tak penah berhenti memberikan rahmatmu kepadaku. Padahal engkau penciptaku, rajaku dan tuhanku. Maka ampuni aku ya Allah. Ya Baginda Rasulullah, Maafkan aku umatmu yang juga belum mengenalmu. Padahal engkau adalah Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia. Sholawat serta salam atasmu wahai kahirul khulqi. Ya Allah, izinkan aku mengenal-Mu dan Rasul-Mu, maka mudahkanlah urusanku untuk itu.