Langsung ke konten utama

Belajar dari kisah driver ojol



Beberapa waktu lalu saya mendapatkan pengalaman yang cukup menarik. Tentang bagaimana sebuah tekad merubah pola hidup seseorang.

Waktu itu saya menghabiskan malam weekend saya di salah satu mall di ibukota untuk makan malam. Setelah selesai, saya memutuskan untuk memesan Driver motor Ojek online (GoJek) untuk mengantarkan saya pulang. Dapatlah saya seorang driver dengan motor matic berwarna merah dengan helm merah. Orangnya sangat ramah dan santun.

Ya mungkin hal lumrah seorang driver mengajak pelanggannya berbincang di atas kendaraannya. Tapi, betapa banyak kita mengambil kisah dari pengalaman mereka? boleh jadi kisah mereka lebih hebat dari kisah kita.

Awalnya kami berbincang-bincang tentang kejuaraan badminton yang baru saja selesai hari itu (Indonesia Master 2018). Saat itu Indonesia masuk babak final dan tak mampu merebut posisi pertama. Hingga akhirnya sang driver menceritakan bahwa dirinya baru saja pulang dari jogja sore itu. "Saya sebetulnya baru nyampe jakarta mas" katanya. "Oh, baru tinggal di jakarta mas?" Tanya saya. "Nggak, Sebetulnya udah lama tinggal di jakarta. Cuma kemarin habis pulang dari jogja ada 40 harian ibu saya" jelasnya. Sang driver menceritakan bahwa dia di jakarta tinggal bersama bapaknya. saya sempat heran kok baru sampai sore tadi langsung narik orderan? nggak capek?. "Saya mah nggak bisa istirahat mas" jawabnya. Perbincangan mengenai keheranan saya 'kok nggak narik di jogja aja? Ibunya meninggal kenapa? Kok masih muda udah narik mas? Nggak sekolah/kukiah? Berapa kali narik sehari mas?' sebetulnya menarik untuk di jelaskan. Tapi bukan poin itu yang ingin saya sampaikan.

Sampailah pada saat ia mengatakan "Saya mah sudah punya target mas, Tahun depan target saya sudah bisa beli rumah di jogja sana". Sontak saya terkagum dengan pernyataan sang driver tsb. Ia menjelaskan bahwa dirinya merasa penting untuk membuat target dalam bekerja agar mendapat motivasi ketika melakukannya. "Iya, mas. emang klo nggak kita targetin nggak bisa mas, harus punya target". Hal yang tak banyak saya temui bagi orang-orang sepertinya. Malah mungkin banyak dari orang-orang yang memiliki kecukupan lebih dari sang driver ojol tadi.

Maka saya belajar bahwa dengan tekad/target yang kita miliki akan mempengaruhi bagaimana kita menjalani hidup ini. Walaupun saya belum melihat bagaimana akhir dari hasil tekad sang driver. Tapi setidaknya ia mampu melakukan hal yang lebih dari yang lain. -JR-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa

Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa      Dalam metodelogi sejarah, Tajj Ad-Diin As-Subki memberikan salah satu sifat yang menjadi syarat kepada seseorang yang layak dianggap sejarawan. Sifat itu adalah Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa artinya tidak dikuasai oleh hawa nafsu.      Alamak, kayaknya selain ujian kampus, hari-hari ini kita juga sedang di uji dengan hawa nafsu kita masing-masing. Speak-up terkait kondisi Mesir akhir-akhir ini sepertinya sangat menarik. Tapi untuk apa saya menulis? Untuk apa saya mengomentari postingan saudara saya dan membantahnya? bahkan sepertinya saya menjatuhkan mertabatnya…       Jadi ingat ucap Ustadz Baba Feylian beberapa waktu lalu ketika ditanya apa yang dibutuhkan oleh para lulusan Al-Azhar? Beliau menjawab : ”Tazkiyatun Nafs”.      Bukan, saya tidak sedang membatasi pergolakan pemikiran yang terjadi, teruskan! Itu bagus sekaliii, ASELII… namun saya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa jangan sampai ...

Akan Kita Apakan Ramadhan 2019?

Manusia hakikatnya memiliki 2 unsur dalam dirinya. Yaitu Jasad dan Ruh. Jasad manusia diciptakan dari tanah.  (وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ) "Dan sungguh telah kami ciptakan manusia dari tanah liat yang kering dari lumpur hitam yang dibentuk" [Surat Al-Hijr 26] Dan itulah, manusia tak bisa lepas dengan tanah. Segala hal semua berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Maka apa yang di sombongkan? toh kita dari satu unsur yang sama, Tanah. Namun, Seindah-indahnya jasad yang dikaruniakan Allah Swt. tak akan berarti tanpa adanya ruh. Jasad dianggap hidup karena dia memiliki ruh. Sebagus-bagusnya jasad seseorang. Ketika ruh telah tiada dalam jasadnya. Maka ia akan di jauhi, ia akan cepat-cepat di asingkan dari kehidupan, Dikubur. Semewah-mewahnya kasur tempat ia tidur. Ketika ruh telah tak ada dalam jasadnya. Maka tanahlah alas tidurnya. Maka kita mengetahui betapa ruh begitu memiliki arti penting dalam diri i...

Aku.

Akhir-akhir ini merasa sedih dan bingung, berfikir tentang hakikat yang membuat diri ini merasa bukan apa-apa. Dua hal yang menjadi dasar dalam hidup yang ternyata akupun belum memahami hakikat kata itu. Terngiang ucapan salah satu ustadz bahwa “jika seorang ibn athoillah as sakandari adalah orang yang mengenal tuhannya. Maka siapa kita?” Ternyata aku bukan siapa-siapa. Ya Allah, maafkan hambamu yang belum mengenalmu, padahal engkau tak penah berhenti memberikan rahmatmu kepadaku. Padahal engkau penciptaku, rajaku dan tuhanku. Maka ampuni aku ya Allah. Ya Baginda Rasulullah, Maafkan aku umatmu yang juga belum mengenalmu. Padahal engkau adalah Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia. Sholawat serta salam atasmu wahai kahirul khulqi. Ya Allah, izinkan aku mengenal-Mu dan Rasul-Mu, maka mudahkanlah urusanku untuk itu.