Langsung ke konten utama

Hidup ini adalah tentang 'Sebab Akibat'





Sebelumnya saya ingin menceritakan kenapa saya dapat pencerahan untuk membahas ini.

Saya ini orangnya kepoan, jadi biasaa.. kalo kepo biasanya suka stalking2 gituu.. :D

Nah, ceritanya saya ngestalk temen-temen di line dan ngeliat beranda temen. Tiba-tiba ketemu foto beranda temen yang isinya Quotes yang membuat saya ingin berbagi hal ini ke teman-teman sekalian

"In Islam we don't have karma, we have kifarah. what you give you'll get back. if you're good, good will come to you. and vice versa. For Allah SWT is fear. when someone wrongs you, be patient. for Allah has a plan for them to."

*Artinya? cari tau sendiri napah -_- sambil belajar b.ing gitu loo...

Dan tersentaklah saya. Dan saya mulai memikirkan tentang kalimat mutiara ini dan mencoba menghubungkannya dalam kehidupam saya yang saya jalani.

Kawan, segala permasalahan dalam hidup ini sejatinya adalah tentang sebab akibat. Ada sebab-sebab yang menyebabkan terjadinya akibat yang kita dapatkan saat ini. jikalau saat ini kita merasa kesusahan, maka sejatinya itu adalah akibat dari yang telah kita lakukan sebelumnya. Dan sebaliknya. Maka saat ini mulailah belajar untuk tidak menyalahkan keadaan. Karena boleh jadi itu adalah akibat dari apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Karena semua ada balasannya. Kau mendzolimi orang lain maka kau akan dizolimi juga nantinya. Kau berbuat baik maka orang akan berbuat baik kepadamu. Percayalah!

 هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَان
"Bukankah balasan kebaikan tidak lain  kebaikan (pula)?" (Ar Rahmam : 60)

Kerennya adalah, berbeda dengan keburukan yang jika kita melakukan sekali maka akan dibalas sekali. Tapi ketika kita berbuat kebaikan maka akan dibalas oleh Allah Swt. berlipat-lipat dari apa yang kita lakukan sebelumnya. gak percaya? Buktikan.

Maka mulai saat ini kawan-kawan sekalian. marilah kita membuat sebab-sebab yang akan membuat kita mendapatkan akibat yang membahagiakan di dunia dan di akhirat kelak. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa

Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa      Dalam metodelogi sejarah, Tajj Ad-Diin As-Subki memberikan salah satu sifat yang menjadi syarat kepada seseorang yang layak dianggap sejarawan. Sifat itu adalah Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa artinya tidak dikuasai oleh hawa nafsu.      Alamak, kayaknya selain ujian kampus, hari-hari ini kita juga sedang di uji dengan hawa nafsu kita masing-masing. Speak-up terkait kondisi Mesir akhir-akhir ini sepertinya sangat menarik. Tapi untuk apa saya menulis? Untuk apa saya mengomentari postingan saudara saya dan membantahnya? bahkan sepertinya saya menjatuhkan mertabatnya…       Jadi ingat ucap Ustadz Baba Feylian beberapa waktu lalu ketika ditanya apa yang dibutuhkan oleh para lulusan Al-Azhar? Beliau menjawab : ”Tazkiyatun Nafs”.      Bukan, saya tidak sedang membatasi pergolakan pemikiran yang terjadi, teruskan! Itu bagus sekaliii, ASELII… namun saya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa jangan sampai ...

Akan Kita Apakan Ramadhan 2019?

Manusia hakikatnya memiliki 2 unsur dalam dirinya. Yaitu Jasad dan Ruh. Jasad manusia diciptakan dari tanah.  (وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ) "Dan sungguh telah kami ciptakan manusia dari tanah liat yang kering dari lumpur hitam yang dibentuk" [Surat Al-Hijr 26] Dan itulah, manusia tak bisa lepas dengan tanah. Segala hal semua berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Maka apa yang di sombongkan? toh kita dari satu unsur yang sama, Tanah. Namun, Seindah-indahnya jasad yang dikaruniakan Allah Swt. tak akan berarti tanpa adanya ruh. Jasad dianggap hidup karena dia memiliki ruh. Sebagus-bagusnya jasad seseorang. Ketika ruh telah tiada dalam jasadnya. Maka ia akan di jauhi, ia akan cepat-cepat di asingkan dari kehidupan, Dikubur. Semewah-mewahnya kasur tempat ia tidur. Ketika ruh telah tak ada dalam jasadnya. Maka tanahlah alas tidurnya. Maka kita mengetahui betapa ruh begitu memiliki arti penting dalam diri i...

Aku.

Akhir-akhir ini merasa sedih dan bingung, berfikir tentang hakikat yang membuat diri ini merasa bukan apa-apa. Dua hal yang menjadi dasar dalam hidup yang ternyata akupun belum memahami hakikat kata itu. Terngiang ucapan salah satu ustadz bahwa “jika seorang ibn athoillah as sakandari adalah orang yang mengenal tuhannya. Maka siapa kita?” Ternyata aku bukan siapa-siapa. Ya Allah, maafkan hambamu yang belum mengenalmu, padahal engkau tak penah berhenti memberikan rahmatmu kepadaku. Padahal engkau penciptaku, rajaku dan tuhanku. Maka ampuni aku ya Allah. Ya Baginda Rasulullah, Maafkan aku umatmu yang juga belum mengenalmu. Padahal engkau adalah Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia. Sholawat serta salam atasmu wahai kahirul khulqi. Ya Allah, izinkan aku mengenal-Mu dan Rasul-Mu, maka mudahkanlah urusanku untuk itu.