Langsung ke konten utama

Talaq, bukti indahnya syariat Islam

    Saya merasa takjub dengan hukum Islam yang begitu perhatian dalam hal-hal kecil. Jikalau ia bisa berbicara mungkin ia mengatakan “jangan! Jangan jatuhkan talaqmu itu, coba kau pertimbangkan lagi matang-matang, kau tak ingin menyesal bukan?”

Dalam perkara talaq, seorang laki-laki tidak bisa sembarangan mengucapkan kata yang berat itu. Jikalau salah, maka ia akan dihukumi berdosa. 

Talaq Bid’I, bisa juga disebut Talaq bid’ah.. talaq yang dijatuhkan seorang suami kepada isterinya ketika dalam keadaan haid, atau sedang nifas, atau dalam keadaan suci namun dalam kurun waktu suci tersebut suami sempat ‘menyentuhnya’ atau menjatuhi talaq lebih dari satu. Jika suami menjatuhi talaq dalam keadaan tersebut maka ia berdosa. Sebagian ulama malah berpendapat talaq dalam keadaan tersebut tidak sah dan tetap berdosa.

Sedangkan islam mengatur, jikalau memang mediasi dan seluruh usaha berdamai tidak menemui solusinya maka suami dianjurkan mentalaq isterinya dalam keadaan suci. Dan selama masa suci tersebut belum ada ‘menyentuhnya’. Inilah yang disebut sebagai Talaq Sunni atau bisa disebut Talaq Sunnah, karena sesuai dengan syariat.

Entah benar atau salah, saya menangkap kesan bahwa syariat islam mencoba ‘mengulur waktu’ untuk suami agar kembali memikirkan keputusannya sebelum ia menjatuhi talaq kepada isterinya. Syariat ini juga seolah memperhatikan aspek psikologi wanita ketika harus menerima keputusan tersebut.. betapa sakitnya perasaan wanita yang baru melahirkan dan masih keluar darah nifasnya harus menerima kenyataan ditinggal suaminya, betapa sakitnya perasaan wanita ketika ditalaq langsung dua atau bahkan tiga sekaligus oleh orang yang kepadanya dia bersandar..

Dan begitulah, alhamdulillahi ala ni’matil iman wal islam..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa

Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa      Dalam metodelogi sejarah, Tajj Ad-Diin As-Subki memberikan salah satu sifat yang menjadi syarat kepada seseorang yang layak dianggap sejarawan. Sifat itu adalah Laa Yaghlibuhu Al-Hawaa artinya tidak dikuasai oleh hawa nafsu.      Alamak, kayaknya selain ujian kampus, hari-hari ini kita juga sedang di uji dengan hawa nafsu kita masing-masing. Speak-up terkait kondisi Mesir akhir-akhir ini sepertinya sangat menarik. Tapi untuk apa saya menulis? Untuk apa saya mengomentari postingan saudara saya dan membantahnya? bahkan sepertinya saya menjatuhkan mertabatnya…       Jadi ingat ucap Ustadz Baba Feylian beberapa waktu lalu ketika ditanya apa yang dibutuhkan oleh para lulusan Al-Azhar? Beliau menjawab : ”Tazkiyatun Nafs”.      Bukan, saya tidak sedang membatasi pergolakan pemikiran yang terjadi, teruskan! Itu bagus sekaliii, ASELII… namun saya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa jangan sampai ...

Akan Kita Apakan Ramadhan 2019?

Manusia hakikatnya memiliki 2 unsur dalam dirinya. Yaitu Jasad dan Ruh. Jasad manusia diciptakan dari tanah.  (وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ) "Dan sungguh telah kami ciptakan manusia dari tanah liat yang kering dari lumpur hitam yang dibentuk" [Surat Al-Hijr 26] Dan itulah, manusia tak bisa lepas dengan tanah. Segala hal semua berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Maka apa yang di sombongkan? toh kita dari satu unsur yang sama, Tanah. Namun, Seindah-indahnya jasad yang dikaruniakan Allah Swt. tak akan berarti tanpa adanya ruh. Jasad dianggap hidup karena dia memiliki ruh. Sebagus-bagusnya jasad seseorang. Ketika ruh telah tiada dalam jasadnya. Maka ia akan di jauhi, ia akan cepat-cepat di asingkan dari kehidupan, Dikubur. Semewah-mewahnya kasur tempat ia tidur. Ketika ruh telah tak ada dalam jasadnya. Maka tanahlah alas tidurnya. Maka kita mengetahui betapa ruh begitu memiliki arti penting dalam diri i...

Aku.

Akhir-akhir ini merasa sedih dan bingung, berfikir tentang hakikat yang membuat diri ini merasa bukan apa-apa. Dua hal yang menjadi dasar dalam hidup yang ternyata akupun belum memahami hakikat kata itu. Terngiang ucapan salah satu ustadz bahwa “jika seorang ibn athoillah as sakandari adalah orang yang mengenal tuhannya. Maka siapa kita?” Ternyata aku bukan siapa-siapa. Ya Allah, maafkan hambamu yang belum mengenalmu, padahal engkau tak penah berhenti memberikan rahmatmu kepadaku. Padahal engkau penciptaku, rajaku dan tuhanku. Maka ampuni aku ya Allah. Ya Baginda Rasulullah, Maafkan aku umatmu yang juga belum mengenalmu. Padahal engkau adalah Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia. Sholawat serta salam atasmu wahai kahirul khulqi. Ya Allah, izinkan aku mengenal-Mu dan Rasul-Mu, maka mudahkanlah urusanku untuk itu.